Budaya

Aksara Morfemis : Satu Suku Kata Pada Satu Simbol Gambar

Secara umum, bahasa adalah alat untuk komunikasi yang digunakan oleh manusia dengan komunitas lainnya menggunakan bahasa itu sendiri. Bahasa mengandung pikiran, keinginan, atau perasaan yang ada dalam pembicara atau penulis. Bahasa yang digunakan harus dapat mendukung niat dengan jelas sehingga apa yang dipikirkan, diinginkan, atau dirasakan dapat diterima oleh pendengar atau pembaca. Elemen yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas bahasa adalah huruf. Fungsi huruf sangat penting. Karena , huruf adalah lapisan dasar dalam bahasa. Huruf  adalah elemen terpenting dalam bahasa, baik untuk bahasa tulisan maupun lisan. Huruf itu mengandung makna jika telah terangkai  dalam frasa atau kalimat.

Aksara morfemis adalah aksara yang menggunakan satu grafem, yang disebut logo gram atau lebih dikenal dengan nama logograf, untuk mewakili satu kata atau morfem, misalnya sebagian besar aksara Tionghoa dan aksara Kanji Jepang. Beberapa aksara tertua di dunia dapat dikelompokkan ke dalam jenis aksara ini, misalnya aksara yang digunakan oleh kebudayaan di Timur Dekat, Asia Timur, dan Amerika Tengah. Kontras dari aksara morfemis adalah aksara fonemis dengan fonogramnya yang mewakili fonem atau kombinasi fonem, seperti pada alfabet, abudiga, dan abjad. Meskipun secara populer logogram sering dianggap serupa dengan ideogram dan piktogram, ada sedikit perbedaan antara ketiga istilah ini: logogram mewakili satu kata atau morfem, ideogram mewakili satu ide atau konsep, sedangkan piktogram adalah ideogram yang memiliki kemiripan dengan objek fisik yang diwakilinya.

Hal yang mendasari dalam pembentukan suatu kata  merupakan bentuk yang mengalami proses morfologis. Bentuk dasar tersebut dapat berupa monomorfemis maupun polimorfemis. Alat pembentuk kata dapat berupa afiks dalam proses afiksasi, pengulangan dalam proses reduplikasi, dan berupa penggabungan yang berupa frase. Makna gramatikal merupakan makna yang muncul dalam proses gramatikal. Makna gramatikal memiliki hubungan dengan komponen makna leksikal pada setiap bentuk dasar atau akar. Untuk dapat menghubungkan segala permasalahan tersebut maka dapat digunakan proses morfologi, sebagai alat bedah. Proses morfologi dikenal juga dengan sebutan proses morfemis atau proses gramatikal. Hal ini diterangkan dalam pernyataan seorang ahli linguistic, yang bernama Chaer, yang menulis bukunya pada tahun 2003, yang meynatakan bahwa  “Pembentukan kata dari sebuah bentuk dasar melalui pembubuhan afiks (dalam proses afiksasi), pengulangan atau reduplikasi, penggabungan atau proses komposisi, serta pemendekan atau proses akronimisasi”