Budaya

Triton: alat musik tradisional Suku Papua

Triton adalah alat musik tradisional masyarakat Papua. Triton dimainkan dengan cara ditiup. Alat musik ini terdapat di seluruh pantai, terutama di daerah Biak, Yapen, Waropen, Nabire, Wondama, serta kepulauan Raja Amat. Awalnya, alat ini hanya digunakan untuk sarana komunikasi atau sebagai alat panggil atau pemberi tanda. Saat ini, triton  digunakan sebagai alat musik tradisional pengiring tarian kedaerahan.

Indonesia memiliki 700-an suku dengan budayanya yang unik. Salah satu produk budaya adalah alat musik tradisional. Seperti di Papua misalnya, di wilayah ini dikenal terdapat banyak alat musik tradisional yang berbeda dengan instrumen-instrumen yang dimiliki suku lain di Nusantara. Masyarakat di wilayah Papua dikenal memiliki sifat ekspresif. Mereka mengisi setiap kejadian penting dalam kehidupannya, dengan tradisi kesenian. Selain berekspresi dengan seni ukirannya yang khas, mereka juga suka menari dan mendengarkan suara musik dari alat musik tradisional Papua. Meskipun masih banyak alat musik Papua yang masih digunakan hingga saat ini, tetapi mungkin masih banyak jenis alat musik lain yang belum dikenal, atau malah telah mengalami kepunahan dalam keberadaannya. Selain karena makin kurangnya minat generasi muda untuk melestarikannya, juga mungkin karena pengaruh masuknya budaya seni modern ke dalam kehidupan masyarakat Papua. Selain alat musik Triton, daerah Papua juga masih memiliki jenis alat musik lain, seperti, Tifa dan terompet bamboo, yang penggunaannya belum tentu dapat dimainkan oleh orang dari daerah lain.

Alat musik tradisional Papua, yang bernama Triton merupakan jenis alat musik, yang memiliki fungsi yang sama dengan alat musik Yi. Hal yang membedakannya adalah, Yi merupakan alat musik yang dibuat dari kayu, Triton justru dibuat dari kerang terompet dan dimainkan dengan cara ditiup. Lebih dari itu, perbedaan lain yang terdapat pada kedua alat musik ini adalah, jika Triton digunakan sebagai sarana berkomunikasi, sedangkan Yi merupakan alat musik yang digunakan, selain untuk sarana untuk memanggil penduduk, alat musik ini juga untuk mengiringi acara tari-tarian.

Alat musik ini, mungkin dinamakan Triton, karena sesuai nama daerah asalnya, yaitu teluk triton di wilayah Papua. Teluk Teluk Triton memiliki potensi wisata yang patut diperhitungkan, sebagai tujuan ekowisata populer baru di Indonesia. Teluk Triton menawarkan berbagai jenis hal-hal untuk dilihat dan dilakukan, dari peninggalan sejarah untuk pertunjukan budaya ke tempat-tempat menyelam yang indah.