BudayaSulawesi Utara

Profil: Batak Angkola

Angkola  disebut juga Batak Angkola atau Anakola merupakan sub-kelompok etnis dalam suku Batak dari Sumatera Utara. Suku ini tinggal di kabupaten Tapanuli Selatan. Bahasa Angkola mirip dengan bahasa Mandelling, tetapi secara sosiolinguistik berbeda. Nama Angkola berasal dari Sungai Angkola atau Batang Angkola, yang diberi nama oleh seorang perwira bernama Rajendra Kola Angkola atau Lord of the City. Pada zaman dulu kekuasaan daerah ini meliputi wilayah Padang Lawas dan kemudian mengambil alih kekuasaan.  Bagian selatan, terdapat sebuah sungai, yang bernama Sungai Angkola, atau disebut Angkola Jae, sedangkan bagian utara (hulu) disebut Angkola Julu.

Orang Batak Angkola merupakan orang-orang yang berasal dari Batak Toba dan masyarakat Mandailing. Mereka banyak mendiami wilayah Sipirok, yang merpakan salah satu kota terbesar, yang berada  di Kabupaten Tapanuli Selatan. Dalam sejarahanya, hampir separuh penduduk daerah tersebut berasal dari orang-orang yang bermigrasi dari Tapanuli Utara ke Tapanuli Selatan, pada abad ke-14, yang merupakan anggota klan Siregar. Klan orang Batak Angkola adalah Nasution, Siregar, Harahap, Pohan, Hasibuan, Daulay. Beberapa dari mereka milik klan milik orang Batak Toba seperti Pasaribu, Hutagalung. Sebagian besar orang Batak Angkola tinggal di Kabupaten Tapanuli Selatan, kota Padangsidimpuan dan kota Sibolga beberapa dari mereka bermigrasi ke kota-kota besar seperti Medan, Padang, Pekanbaru, Batam atau bahkan Jakarta, Bandung, Surabaya, atau bahkan di luar negeri.

Sebagian besar Batak Angkola adalah Muslim. Pengaruh Islam di Angkola berasal dari Sumatera Barat, pada awal abad ke-19. Akan tetapi beberapa dari mereka adalah orang Kristen. Di kota Sipirok, yang merupakan kota terbesar di wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan dan di kota Sibolga, adalah normal jika ada masjid dan gereja yang berdiri bersebelahan. Tetapi kepercayaan animistis tidak hilang sama sekali, masih ada beberapa tabib tradisional yang disebut ‘ompung dukun’, beberapa orang pergi ke ‘ompung dukun’ jika mereka memiliki masalah. Tetapi hari ini, beberapa ulama Muslim menyatakan bahwa sebagai terlarang meskipun orang-orang yang pergi ke ‘ompung dukun’ tidak percaya pada mantra-mantra sihir ‘ompung dukun’.

Sebagian besar Batak Angkola yang tinggal di Kabupaten Tapanuli Selatan adalah petani, padahal sebagian besar mereka yang tinggal di kota Padangsidimpuan atau Sibolga adalah pengendara becak atau tukang becak motor. Beberapa pria Batak Angkola yang tinggal di Medan, Padang, Pekanbaru, Batam, Jakarta, Bandung, Surabaya adalah sopir minibus, pengemudi truk, sopir bus, sopir pribadi, atau bahkan preman. Sebagian besar Batak Angkola yang berpendidikan yang tinggal di luar tanah air mereka menjadi guru, dokter atau pengacara.