Wisata

Pesona Tersembunyi Ambon Manise, Pantai Lubang Buaya

Langit terlihat terang|tidak gelap, hanya ditingkahi awan yang memperindah Pantai Lubang Buaya, Morela, Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Cahaya sore menghujam ke laut bersih memantul ke rimbunnya pepohonan tepi pantai yang mempertajam keindahan alam yang permai di sini.

Kendati terik sungguh menyengat, tidak menyurutkan langkah Danik Eka Rahmaningtiyas untuk mengayuh perahu mengarungi punggung laut yang bersih. Aktivis perempuan ini menghabiskan liburan tahun barunya di Pantai Lubang Buaya.

“Bagiku pantai dan keindahan alam di sini keren banget. Sempurna. Hanya perlu pengelolaan serta promosi yang lebih baik lagi,” kata Danik kepada BeritaSatu.com, Rabu (3/1) sore. Tak lupa ia mengirimkan beberapa foto dan vlognya di Youtube melalui saluran WhatsApp.

Menuju ke lokasi pantai, Danik harus menempuh 2  jam perjalanan darat dari Ambon. Di sepanjang jalan, dia melihat kondisi yang harus ditingkatkan lagi untuk mengundang wisatawan lebih banyak.

Bahkan di satu  titik, dia menemukan sebuah jembatan yang sudah tidak terurus. “Infrastruktur ke lokasi kurang memadai, padahal jalan utama antardaerah. Kita akan melewati jembatan yang telah telantar belasan tahun. Jembatan kayu yang membahayakan kita,” kata Danik.

Begitu sampai di lokasi, Danik pun paham bahwa tempat wisata ini muncul karena kreativitas masyarakat setempat.

“Semuanya serba murah. Tarif parkir mobil hanya lima ribu  rupiah, setiap orang masuk dikenai biaya cuma dua ribu  rupiah,” katanya.

Danik terpesona keindahan alam dan keramahan masyarakat. Terlupakan penatnya melewati “rintangan” saat menuju ke Pantai Lubang Buaya. Dia pun langsung tergoda untuk mengarungi laut bersih serta melihat ikan dan karang.

“Cukup menyewa perahu berdiesel seharga Rp 100.000. Air lautnya bersih dan tidak lengket di kulit,” katanya.

Puas bermain di laut, Danik menepi. Di tepi pantai dengan mudah ditemukan jajanan dan makanan. Ada berbagai seafood masih segar yang langsung dimasak di gazebo-gazebo di atas laut.

“Camilan khas sini adalah sukun goreng dilumuri gula aren,” katanya.

Tentulah Danik memotret berbagai lokasi yang indah. Tidak lupa dia juga selfie. Tapi, masalahnya saat ingin meng-update media sosial (medsos), dia menemukan kendala. “Sinyal 4G dan 3G mendadak raib dari seluler,” katanya. Jadi dia harus bersabar. Untuk meng-update status di medsos, dia harus kembali ke kota.

Kendati memiliki nama Pantai Lubang Buaya, tidak ada yang perlu ditakuti. Karena itu hanya sebuah nama dari sahibul hikayat cerita dari mulut ke mulut di pantai tersebut. Konon, ada sebuah lubang tempat bermukim seekor buaya putih di sini. Kemudian masyarakat menamakan tempat ini Pantai Lubang Buaya.

Pantai yang eksotik ini berada di kampung Moreno yang juga tidak kalah eksotiknya. Masyarakat adat di sini mempunyai tradisi pukul sapu. Dilaksanakan selama 7  hari sesudah Idul Fitri.

Jadi Danik tidak bisa menikmati tradisi pukul sapu oleh para pria yang saling memukul sapu di ke tubuh lawan tariannya. Selain itu, dia juga tidak bisa menemukan tempat penginapan. Jadi dia pun kembali ke Ambon melalui jalanan yang sudah dilaluinya dengan melelahkan itu.

Tapi Danik tetap senang sudah menginjakkan kaki di Pantai Lubang Buaya, salah satu pesona tersembunyi Ambon Manise yang memang dikelilingi wisata pantai.