Gaya HidupKesehatan

Dampak Buruk Mitos bagi Kesehatan Anak

Ada banyak berita hoax atau mitos di dunia kesehatan yang bila dicermati secara detail mempunyai dampak yang buruk pada masa depan, baik itu terhadap individu maupun masyarakat.

Mitos, banyak warga yang masih percaya bahwa SKM bisa menggantikan ASI.

Mitos berasal dari banyak hal, dari pengalaman, sampai dari informasi yang salah dari sumber tertentu. Contohnya dalam kasus susu kental manis (SKM), banyak warga yang masih percaya bahwa SKM bisa menggantikan ASI, atau mempunyai tingkat nutrisi yang sama dengan susu. Kemudian, ada mitos soal vaksin bisa menyebabkan autisme, yang sesungguhnya merupakani kesalahan yang fatal lantaran tidak terbukti dengan riset yang valid.

Generasi muda sekarang harus lebih bijak memahami berita mana yang benar atau sesuai dengan fakta. Sayangnya, di Indonesia banyak berita hoax yang menjadi acuan dalam mengambil keputusan, terlebih lagi pengambilan keputusan dalam membesarkan buah hati.

Banyak orang tua yang lupa bahwa anak adalah kandidat pemimpin masa depan, anak merupakan aset bangsa yang wajib dilindungi, diberikan pendidikan yang cukup, dan dirawat dengan baik dan benar.

Deputi Menteri Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian PPPA dra Lenny Nurhayanti Rosalin MSc mengungkapkan langkah-langkah memerangi hoax yang merugikan masyarakat, terutama kepada keluarga dan anak-anak adalah adanya dukungan dan peran dari seluruh elemen masyarakat.

Mulai dari pemerintah, lembaga nonprofit, perusahaan, sampai masyarakat itu sendiri yang “wajib” bersedia diedukasi oleh para ahli praktisi.

“Selain itu, materi yang disampaikan harus sesuai dengan jenis usia, dan pendidikan warga. Agar pesan mampu diterima dengan baik dan benar, butuh bahasa yang pas.

Bahwa kasus gizi buruk masih menjadi PR besar pemerintah Indonesia ditambahkan oleh dia juga. Stunting atau gizi buruk identik dengan daerah-daerah di pedalaman, tapi banyak juga kasus yang terjadi di kota-kota besar, bahkan di Jakarta.

“Ada 87 juta anak Indonesia yang wajib dilindungi, bukan hanya dalam kasus kekerasan pada anak, tapi juga melindungi mereka dari penyakit-penyakit terselubung dan berbahaya,” kata dra Lenny. Menurutnya, kini gadget menjadi perhatian besar KPPPA dalam isu pendidikan orang tua dan anak.

Gadget dinilai memengaruhi aktivitas anak, dan berpengaruh pada tumbuh kembang mereka, hingga berdampak pada kesehatan pada masa depan. Mereka jadi lupa dunia mereka kalau anak telah pegang gadget. Gadget bisa membuat anak diam saat rewel. Namun, itu tak baik untuk kesehatan psikis dan tubuh mereka. Anak jadi jarang beraktivitas. Ditambah lagi asupan nutrisinya kurang diperhatikan,” ucapnya.

Ditambah isu susu kental manis (SKM) yang masih diberikan ke anak-anak itu, dra Lenny menilai bisa jadi anak-anak mempunyai usia yang lebih pendek pada masa depan, dan menderita obesitas yang merupakan kurang gizi terselubung.

Sementara itu, dr Reisa Broto Asmoro mengungkapkan adanya kasus-kasus dengan pola hidup yang salah dan diterapkan dalam membesarkan buah hati. Ia menuturkan bahwa menemukan ada banyak keluarga dengan orang tua yang kegemukan, tapi anak balita mengalami kurang gizi akut.

Penyebabnya adalah ketidaktahuan orang tua dalam memberikan asupan yang seimbang, contohnya mereka masih percaya bahwa air tajin bisa menggantikan ASI atau susu. Hal itu sama sekali tidaklah benar,” sebut dr Reisa.