Internasional

Iran: Memalukan Sekutu Teroris Jadi Penasihat Keamanan AS

Pejabat senior Iran meledek Presiden Donald Trump yang menunjuk John Bolton sebagai Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat (AS). Pejabat tersebut mengatakan, langkah Trump itu memalukan lantaran Bolton merupakan sekutu teroris.

Bagi Teheran, Bolton dianggap tokoh yang berhubungan dekat bahkan digaji oleh kelompok pemberontak atau oposisi Iran, Mujahidin-e Khalq. Kelompok itu sudah dianggap Teheran sebagai kelompok teroris.

Ali Shamkhani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.

“Untuk negara yang tampaknya negara adikuasa, itu memalukan bahwa pejabat keamanan nasionalnya akan menerima gaji dari sekte teroris,” tulis kantor berita IRNA, Senin (26/3/2018), mengutip Ali Shamkhani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.

Bolton sudah menjadi pendukung kelompok oposisi bersenjata Mujahidin-e Khalq. Dia rajin pidato di acara-acara kelompok itu.

John Bolton resmi menjadi Penasihat Keamanan Nasional AS per 9 April 2018 menggantikan posisi Jenderal HR McMaster. Bolton yang pernah menjabat sebagai duta besar AS di PBB di era Presiden Bush dikenal sebagai tokoh anti-rezim Iran.

Sebagai contoh, mantan menteri pertahanan Israel Shaul Mofaz mengungkap bahwa Bolton pernah mendesaknya untuk membombardir Iran pada tahun 2005-2006. Tetapi, desakan itu tak dipenuhi Israel yang kala itu menganggap Iran belum begitu berbahaya.

Gedung Putih belum berkomentar atas ledekan pejabat senior Iran tersebut.

Sementara itu, di Paris, juru bicara kelompok Mujahidin-e Khalq, Shahin Ghobadi mengatakan bahwa kelompoknya mendanai Bolton adalah kebohongan. “Gagasan bahwa organisasi Mujahidin-e Khalq sudah mendanai duta besar Bolton atau pejabat Amerika lainnya hanyalah sebuah kebohongan dan hanya lelucon belaka,” katanya seperti dikutip Reuters.

Dalam sebuah pidato di sebuah acara kelompok Mujahidin-e Khalq di dekat Paris pada bulan Juli, Bolton menyatakan harapan bahwa pemerintah Iran akan digulingkan pada 2019.

Mujahidin-e Khalq, yang sebelumnya memiliki markas di Irak sejak 1980-an, memulai kegiatannya sebagai kelompok kiri Islam yang menentang rezim terakhir Shah. Tetapi, kekuasaan rezim Shah yang jatuh setelah Revolusi Islam 1979 diambil alih oleh kelompok Muslim Syiah yang kini berkuasa di Teheran.

Mujahidin-e Khalq merupakan salah satu faksi terbesar di Iran setelah Revolusi Islam 1979. Tetapi para diplomat dan analis mengatakan sulit untuk menentukan tingkat dukungan bagi kelompok itu di dalam negeri Iran pada saat ini. Terlebih, banyak warga Iran menolak memaafkan kelompok tersebut lantaran berpihak pada Saddam Hussein selama perang Iran-Irak pada 1980-an.

Sementara itu, pemerintah AS sendiri menetapkan kelompok itu sebagai organisasi “teroris” pada tahun 1997. Tetapi, status itu dicabut pada tahun 2012.