Kesehatan

Mantan Petinju Alami Gangguan Otak Penyebab Demensia

Mantan petinju dipaksa pensiun dari olahraga yang digelutinya selama 29 tahun lantaran mengembangkan gangguan otak yang menyebabkan demensia atau pikun.

Adalah Alan Prout (42) didiagnosis dengan ensefalopati traumatik kronis (CTE), yaitu gangguan otak yang melemahkan saraf. Ini bermula ketika Alan mengalami sakit kepala yang parah, hilang ingatan, kecemasan, dan perubahan suasana hati.

Menurut Alan, kondisinya saat ini disebabkan oleh pukulan yang diterimanya di bagian kepala tiga dekade silam. Itu membuat gangguan otak degeneratif yang berkembang menjadi CTE sampai sekarang. “Kami tidak yakin kapan gejala dimulai secara resmi, tetapi itu bisa terjadi selama sepuluh tahun terakhir. Dia mulai sakit kepala parah dan dia pergi ke dokter,” ujar sang istri, Melissa dikutip dari Daily Mail.

CTE juga dikenal sebagai sindrom pukulan-mabuk, dan terjadi ketika pukulan berulang ke kepala atau bahkan pukulan pelan yang tidak menyebabkan gegar otak pun bisa menyebabkan penumpukan protein di otak dan memengaruhi fungsi normalnya.

Mantan Petinju Alami Gangguan Otak Penyebab Demensia

Gejalanya mirip dengan penyakit Alzheimer dan termasuk kebingungan, agresi (perilaku tidak sengaja yang bertujuan membahayakan orang lain), perubahan suasana hati, paranoia, kecemasan, depresi, dan mereka akhirnya bisa berkembang menjadi demensia. Ada juga yang berpendapat bahwa kondisi ini menyebabkan pikiran untuk bunuh diri.

“Kesadaran perlu dibangkitkan tentang hal ini. Setiap hari adalah kurva pembelajaran bagi saya. Tidak ada yang mengharapkan hal ini terjadi pada mereka (petinju), mereka tidak mengharapkan cedera otak,” kata Alan.

Alan yang merupakan juara tidak terkalahkan di kejuaraan World Kickboxing Association (WKA) and International Sport Karate Association (ISKA) pun harus selalu dibantu oleh istrinya untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

“Aku lupa menjemput anak-anak dari sekolah. Saya juga sering membakar tangan karena saya lupa menggunakan sarung tangan saat mengangkat loyang dari oven,” ungkapnya.

“Dia (Melissa) berada di bawah tekanan lebih dari saya. Anak-anak dan istri adalah hidup saya, dan tanpa Mel, hidup saya akan berantakan,” lanjut Alan.

Dikutip dari Brainline, setiap 10 orang yang memiliki cedera otak, sekitar tiga di antaranya akan mengalami depresi. Dan Melissa pun mengkhawatirkan hal itu terjadi pada Alan.

“Saya merasa hampir seperti kehilangan bagian dari Alan. Kami dulu cukup bersosialisasi dan pergi bersama. Tetapi akhir-akhir ini sisi kecemasannya sudah menghentikannya untuk pergi ke berbagai tempat,” tutur Melissa.

“Sulit untuk menyaksikan Alan menderita karena dia sangat mencintai olahraga dan tidak bisa berbuat apa-apa,” tandasnya.