Olahraga

Benjamin Pavard: Bek Andalan Prancis

Benjamin Pavard adalah seorang pemain bola Prancis, yang lahir di Maubeuge, pada tanggal 28 Maret 1996; Saat ii usianya sekitar 22 tahun. Saat ini Pavard bergabung di salah satu klub Prancis, yang bernama Vfb  Stuttgart. Posisinya pada klub tersebut adalah sebagai bek. Karier pertama Pavard pertama kali bergabung di tim Lille, pada tahun 2014. penampilan pertamanya, ketika tim tersebut melawan FC Nantes, pada tanggal 31 Januari 2015.

Benjamin Parvard bermain pada klub Vfb, sejak tahun 2016. Di klub tersebut, ia menandatangani kontrak selama 4 tahun. Kemudian, pada tahun 2017, ia bergabung dalam Tim Nasional untuk membela Prancis. Sebelum bergabung di Tim Nasional Perancis, namanya tidak terlalu terkenal. Nama Benjamin Pavard mulai berkibar, sejak kemenangan Perancis pada ajang Piala Dunia 2018, ketika ia berhasil menyamakan kedudukan pada putaran 16 besar. Saat itu, Prancis sedang melawan Argentina. Pavard dapat menyamakan kedudukan score Prancis menjadi 2-2 pada menit ke 57.

Pavard merupakan anak tunggal. Ibunya bernama Nathalie dan ayahnya bernama Frederic Pavard. Ia merupakan anak tunggal. Tetapi ekonomi keluarganya tidak begitu baik. Pavard berasal dari kota kecil di Prancis, yang langsung berbatasan dengan Beligia. Kota tersebut bernama bernama Jemount.Pavard kecil tidak lama berlatih di kota tersebut, karena kemudian sejak umur 9 tahun, ia bergabung di tim Lille OSC. Empat hari dalam satu minggu, orang tuanya mengantar Pavard kecil untuk berlatih, karena jarak yang harus mereka tempuh dari kediaman mereka sejauh 96 kilometer. Oleh karena jarak yang begitu jauh, akhirnya Pavard tinggal di asrama pemain muda yang disediakan oleh Lilie OSC. Sebagai anak tunggal, Pavard hanya ingin membahagiakan orang tuanya, dengan membuat mereka bangga. Hal ini sesuai dengan pernyataannya, yang dikutip dari salah satu halaman Negara Prancis, yaitu Web Bundesliga.Dalam wawancara dengan wartawan web tersebut, ia mengatakan bahwa, ” “Target pertamaku adalah membuat ayah dan ibuku bangga, Kami menjalani masa sulit. Aku meninggalkan mereka di usia 10 untuk tinggal di asrama sekolah sepakbola Lille. Itu sulit tidak hanya untukku, tapi juga untuk orang tuaku, karena aku anak mereka satu-satunya”.

Perkembangan Pavard tidak begitu pesat, karena di tim Lilie, ia tidak banyak mendapat kesempatan. Pada tahun 2014, Pavard pulang ke Jemount, padahal teman-temannya pergi berlibur ke kawasan indah nan eksotis, atau sibuk berlatih untuk Piala Dunia 2014. Setelah pertemuannya dengan bekas pelatihnya, Parvard didik untuk dapat memainkan posisi bek tengah, dari posisi awalnya sebagai pemain gelandang. Akhirnya, usaha dan kerja kerasnya membawakan hasil. Pada musim kedua pada tahun 2014 hingga tahun 2015, tepatnya pada 31 Januari 2015, Pavard menampilkan performa pertamanya di ajang Ligue 1, dan terus diberi kesempatan dan kepercayaan untuk menunjukkan eksistensinya. Dari Tim U-19 Prancis, Pavard naik ke Tim U-21. Hingga tahun itu, pavard masih berada di luar lingkaran penglihatan pelatih Didier Deschamp. Dalam setahun berikutnya, ia belum menjadi pemain pilihan utama. Kemudian setelah bergabung dengan Vfj Stutgart, baru ia dapat menunjukkan eksistensinya, dengan memberi umpan panjang pada Carlos Mane, dari lini belakang. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh pemain berpengalaman.  Ucapan itu terlontar dari sang pelatih Hitzlsperger. Pada pertandingan itu Pavard mengantar Stutgart pada kemenangan gemilang, dengan skor 4-0. Hal ini lah yang mengantar Parvard pada ajang Piala Dunia.