Pendidikan

Mahasiswa UB Berhasil Kembangkan Alat Ubah Kotoran Sapi Jadi Listrik

Mahasiswa UB Berhasil Kembangkan Alat Ubah Kotoran Sapi Jadi Listrik

Sebuah alat Microbial Fuel Cell yang berfungsi untuk mengubah kotoran menjadi listrik berhasil dikembangkan Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) lintas fakultas. Menariknya, alat tersebut juga sudah mendapat tiga penghargaan sekaligus pada ajang 10th International Exhibition of Inventions and 3rd World Innovation and International Invention Forum 2018. Acara diselenggarakan di Foshan, Guangzhou, Tiongkok.

Tiga penghargaan adalah Silver Medal serta International Invention Award dari Malaysian Association of Research Scientists (MARS) dan Young Innovator Award dari Citizen Innovation Singapore. Kompetisi itu diikuti 253 tim dari 49 negara.

Ketua Tim Penelitian, Naila El’ Arisie mengatakan, penelitian yang dilakukan timnya memakan waktu selama 3 bulan. Judul penelitiannya Digital Fuel Cell from Human Waste (DELETE ): An Alternative Way to Solve Electrical Energy Crisis by Using IOT/Internet of Things to Implement The SDGs 2030. Hal itu terinspirasi dari penelitian yang sudah dilakukan di luar negeri. Selanjutnya, tim berinisiatif untuk mengaplikasikan dan membuktikan secara langsung.

“Kami lihat di Indonesia belum pernah ada yang mengaplikasikan. Jadi kami ingin membuktikan, betul bisa atau tidak. Lalu dicoba juga diintegrasikan dengan aplikasi perangkat lunak,” ujar mahasiswa dari Jurusan Teknik Industri itu.

Mahasiswa UB Berhasil Kembangkan Alat Ubah Kotoran Sapi Jadi Listrik
Mahasiswa UB Berhasil Kembangkan Alat Ubah Kotoran Sapi Jadi Listrik

Selain Naila, penelitian juga melibatkan mahasiswa lainnya. Adalah Muhammad Khuzain (Fakultas Teknik), I Wayan Angga Jayadiyuda (Fakultas Teknik), Muhammad Syarifuddin (Fakultas Ilmu Komputer), Firdausi (Fakultas Pertanian), Rina Ervina (Fakultas Ekonomi & Bisnis), Tubagus Syailendra W (Fakultas Ilmu Sosial & Politik), dan Hendra Surawijaya (Fakultas Kedokteran Hewan).

Naila menjelaskan, alat ini berbentuk semacam chamber dari akrilik yang memakai bantuan PEM (Proton Exchange Membrane). Kotoran berfungsi sebagai substrat untuk membangkitkan listrik karena kandungan bakteri elektroaktifnya.

“Untuk prototype, kami menggunakan kotoran sapi terlebih dahulu. Sedangkan aplikasi perangkat lunak yang dibuat berfungsi untuk mengontrol suhu, kelembapan, tegangan, serta arus yang dihasilkan,” jelas Naila.

“Jadi jika ingin diaplikasikan untuk peralatan rumah tangga, tinggal diperbanyak jumlah chambernya. Kedepannya diharapkan bisa digunakan pada daerah-daerah terpencil yang belum teraliri listrik,” tutup Naila.