NasionalPolitik

Inilah Penyebab Defisit Neraca Perdagangan Menurut Kubu Prabowo-Sandiaga

Inilah Penyebab Defisit Neraca Perdagangan Menurut Kubu Prabowo-Sandiaga

Sejak 2013 lalu, neraca dagang Indonesia mengalami defisit terparah. Pada November ini, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, defisit neraca dagang sudah mencapai US$ 2,05 miliar. Hal ini terparah sejak 5 tahun lalu.

Defisit neraca perdagangan yang terus terpuruk lantaran saat ini Indonesia tidak mempunyai ekspor andalan. Hal tersebut dinilai kubu Capres dan Cawapres nomor urut 02, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno menilai. Alhasil, pemerintah tidak dapat menahan defisit.

“Pertama, defisit itu utamanya karena ekspor kita melemah. Kita tidak punya ekspor andalan. Era Orde Baru, kita punya komoditas ekspor andalan dan dikawal oleh Pemerintah dan itu berhasil (seperti) playwood, tekstil kita jalan. (Sekarang) Ini enggak ada,” kata mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier dalam diskusi bertajuk Nestapa Ekonomi Indonesia 2018 di Media Center Prabowo-Sandi, Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (19/12/2018).

Fuad melanjutkan, saat ini kebijakan ekonomi untuk menaikkan nilai ekspor serta valuta asing tidak dijalankan dengan baik oleh pemerintah. Akibatnya, desifit neraca perdagangan terus terpuruk.

“Paket kebijakan ekonomi yang sudah bertumpuk, itu satu meningkatkan ekspor, satu valuta asing, cuma ini semua diatas kertas, diumumin sendiri tapi tidak jalan,” ujar Direktur Konsolidasi Nasional Koalisi Pasangan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno itu.

Inilah Penyebab Defisit Neraca Perdagangan Menurut Kubu Prabowo-Sandiaga
Inilah Penyebab Defisit Neraca Perdagangan Menurut Kubu Prabowo-Sandiaga

Selain itu, kebijakan penerapan B20 atau pencampuran 20% minyak sawit ke solar dianggap tidak berdampak besar. Bahkan, saat ini sektor migas dinilai sebagai biang kerok defisit dagang.

Adapun impor migas per November masih membengkak dan menyumbang defisit USD1,5 miliar. Lantas, sepanjang Januari-November, tercatat defisit sudah mencapai USD12,15 miliar atau setara Rp176 triliun.

“Untuk mengurangi neraca perdagangan makanya ada B20, itu tidak jalan. Angka itu tidak pengaruh B20, kalau dikasih B20 rusak mesin kita, itu memang untuk bantu (harga) sawit yang jatuh,” ungkap anggota Dewan Pembina Partai Gerindra ini.

Di samping itu, tindakan koruptif dari pejabat juga dianggap ikut menghambat kebijakan ekonomi pemerintah.

“Karena penyakit korupsi, menegakan pemerataan tidak bisa, melakukan perbaikan ekspor tidak bisa, impor ditekan tidak bisa,” pungkasnya.

Jadi, itulah penyebab defisit neraca perdagangan menurut kubu Prabowo-Sandiaga.