NasionalPolitik

BPN Prabowo: Remisi Pembunuh Jurnalis Direvisi, Bentuk Kekeliruan Petahana

BPN Prabowo: Remisi Pembunuh Jurnalis Direvisi, Bentuk Kekeliruan Petahana (pojoknasional.com)BPN Prabowo: Remisi Pembunuh Jurnalis Direvisi, Bentuk Kekeliruan Petahana

Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto – Sandiaga Uno, Ahmad Muzani menilai ada kesalahan mengenai tata kelola pemerintahan era Petahana. Penilaian tersebut terkait Petahana yang sempat mengeluarkan keputusan presiden untuk memberikan resmisi terhadap I Nyoman Susrama, terpidana kasus pembunuhan jurnalis Radar Bali Anak Agung Gde Bagus Narendra Prabangsa. Yang akhirnya, remisi itu dicabut.

Muzani menilai, revisi yang dilakukan Petahana sebagai bentuk kekeliruan. Pasalnya, setelah pemberian remisi itu dilakukan kemudian menimbulkan banyak kontra, Petahana langsung meralatnya. Terlebih lagi, revisi kebijakan semacam itu tidak dilakukan sekali oleh Petahana.

“Kemudian tiba-tiba mendapatkan remisi atas pertimbangan apa? Siapa yang mengusulkan? Bahwa itu kan namanya kekeliruan,” ujar Muzani di DPR RI, Senin (11/2/2019).

Sekjen Partai Gerindra ini kemudian kembali mengungkit kebijakan Petahana yang membebaskan terpidana kasus terorisme Abu Bakar Baasyir tanpa syarat, tetapi tidak jadi dilakukan setelah Menteri Polhukam Wiranto meralat napi teroris tetap harus memenuhi persyaratan jika ingin bebas.

Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo–Sandi, Ahmad Muzani  (pojoknasional.com)
Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo–Sandi, Ahmad Muzani

“Kebijakan-kebijakan yang lain selalu seperti itu, sehingga menurut saya, kalau ada yang salah, barangkali dalam tata lingkungan presiden,” kata Muzani.

Sementara itu, Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto – Sandiaga Uno, Ferdinand Hutahaean menilai sosok Petahana membuat lembaga kepresidenan seperti mainan. Karena setelah remisi itu disetujui kemudian karena banyak yang kontra langsung direvisi oleh Petahana.

“Jokowi membuat harga diri lembaga kepresidenan itu seperti mainan bisa ditarik ulur, bisa direvisi diganti bolak balik tidak masalah yang penting sesuai selera politik,” kata Ferdinand.

Untuk diketahui, Presiden Jokowi akhirnya menandatangani Kepres perihal pembatalan pemberian remisi terhadap I Nyoman Susrama, narapidana kasus pembunuhan jurnalis Radar Bali Anak Agung Gde Bagus Narendra Prabangsa.